Kawasan hutan seluas 600 hektar ini pernah dikunjungi Presiden Megawati dan sederet pejabat penting tanah air. Bahkan Pangeran Charles dan Pangeran Bernhard sempat meninggalkan kenang-kenangan di tempat ini. Jalur yang mereka laluipun kini menjadi jalur favorit para wisatawan.Bantuan Dana Dari Ulat Sutera
Perjalanan sejauh 35 kilometer dari pusat kota, terasa berat ketika tertimpa teriknya matahari. Namun sesampainya di Desa Gading, cuaca mulai berawan. Berbelok ke arah kanan di perempatan pertama, melewati jalan yang hanya bisa memuat dua mobil. Sesampai di pertigaan, belok kanan dan lurus melintasi jalan alam dengan sawah dan ladang di kedua bahu jalan. Di ujung jalan, sebuah gerbang bertuliskan "selamat datang" menyambut ditemani dengan hembusan angin yang menyegarkan.Wanagama yang secara harfiah berarti Hutan Gadjah Mada ini, awalnya hanya seluas 10 hektar dan berada di atas kawasan gersang dan nyaris gundul. Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (FK. UGM) diprakarsai oleh Oemi Hani'in Suseno dan Tri Setyo dibantu Wagiran, seorang warga setempat, menghutankan kembali areal tersebut pada tahun 1964. Tujuan utamanya untuk mencari model cara menanggulangi kekritisan tanah di Gunung Kidul, serta difungsikan sebagai hutan pendidikan dan penelitian lapangan bagi mahasiswa UGM.
Yang pertama kali ditanam adalah pohon murbei (Morus Alba). Daunnya bisa dimanfaatkan untuk makanan ulat sutera dan tidak mudah rontok. Daun ini dijual seharga 1 ringgit (Rp. 2,50) per kg pada waktu itu. Pihak pengelola yang membeli, menjadikannya pakan pada budidaya ulat sutera. Hasil penjualan kepompong akhirnya digunakan sebagai dana pengembangan.
Di hutan ini kini bisa ditemukan bumi perkemahan, wisma, ruang makan, sarana olahraga, aula, pendopo, dan tentunya ruang kelas.
Menikmati Pemandangan Dari Bukit Cendana
Wanagama terletak di Desa Banaran, Kecamatan Playen, Gunung Kidul. Jalan masuknya bercabang dua, namun melingkar saling menghubung. Sayangnya jembatan penghubung mengalami kerusakan pasca gempa, dan sedang menunggu perbaikan. Mengitari Wanagama bisa memakai kendaraan bermotor atau berjalan kaki dengan memilih jalur yang lebih menantang. Bila menaiki kendaraan bermotor, seakan sedang berjalan di dalam hutan layaknya film Jurassic Park, pengunjung hanya bisa melihat tepian-tepian hutan di bahu jalan.Perjalanan lintas alam menjadi sebuah tantangan yang menggairahkan. Sekumpulan pohon cendana, pohon jati, akasia, secang, mahoni, sengon dan banyak lainnya, akan menemani selama tracking.
Menaiki Bukit Cendana yang letaknya relatif lebih tinggi dibandingkan yang lainnya, pemandangan menakjubkan dari Wanagama terbentang di luas. Warna-warni hijau hamparan pohon dan padang rumput, serta alur Sungai Oya yang airnya mengalir lembut berwarna kecoklatan terpantul hijau lumut dan berkilau tertimpa sinar matahari. Bila cuaca sedang cerah, dari bukit ini Merapi akan terlihat. Menambah keindahan pesona Wanagama.
Terkadang, di sekitar Bukit Cendana, terdapat beberapa rusa yang bersantai. Jika beruntung, pengunjung bisa mendekati dan mengamati dengan lebih jelas.
Bersantai di Kali Oya
Melanjutkan perjalanan berputar melalui sisi Barat ke Utara, Sungai Oya mengalir indah di depan mata. Menikmati birunya langit dan segarnya air, pengunjung bisa bersantai sejenak disini. Membasahi wajah sedikit, pasti terasa lebih segar. Memperhatikan beberapa capung yang berterbangan, dan gemericik air yang mengalir serta kicauan burung prenjak, memberikan ketenangan yang membalut relung hati. YogYES sempat bersantai sejenak disini dan menghirup segarnya udara alam.Di dekat Kali Oya, terdapat sebuah air terjun yang mengalir sepanjang musim. Dikelilingi rimbunan pohon, seolah-olah sedang bersembunyi menutupi keindahannya.
Di hutan yang memiliki lebih dari 65 jenis kayu dan ratusan jenis herba ini, Pangeran Charles dan Pangeran Bernhard meninggalkan kenangan berupa pohon jati (Tectona Grandis). Jati peninggalan Pangeran Charles diberi nama Jati Londo. Pohon ini semakin menarik ketika pohon ini mongering sebelum mencapai satu meter. Hal ini terjadi bertepatan dengan pengumuman perpisahan dengan mendiang Putri Diana. Setelah bersemi dan mencapai tiga meter, pohon ini kembali layu dan patah. Kejadian ini bersamaan dengan pengumuman perceraiannya. Kemudian pohon ini tumbuh kembali dan bercabang dua.
Menikmati sore hari, menatap hilangnya matahari di balik cakrawala. Ketika larut dalam kerembangan petang, puluhan burung berarak pulang ke sarang. Saat malam mulai menggayut di sela pepohonan, kesunyian perlahan akan dipecahkan oleh paduan suara jangkrik. Kelelahan setelah berpetualang dalam Hutan Wanagama, tertebus dalam kedamaian alam

No comments:
Post a Comment